Drama di Balik Tirai: Junior Baperan vs. Senior Kelewat Arogan dalam Organisasi Mahasiswa
Oleh: Afif Ramdlani
Organisasi mahasiswa seringkali menjadi panggung bagi pertunjukan kehidupan sosial yang sarat drama. Di antara gelombang kegiatan, tersembunyi konflik yang menarik antara junior yang cenderung "baperan" dan senior yang terkadang terlalu "kelewat arogan."
Junior-junior dalam organisasi sering kali membawa semangat dan antusiasme yang besar. Mereka datang dengan gagasan segar, semangat untuk berubah, dan kerelaan untuk belajar dari senior. Namun, terkadang, ketika pandangan baru mereka bertabrakan dengan kebiasaan lama, mereka dianggap baperan karena keinginan mereka untuk melihat perubahan.
Di sisi lain, senior dalam organisasi sering memiliki pengalaman yang berharga. Namun, beberapa dari mereka bisa terjebak dalam zona nyaman kebiasaan yang sudah terbentuk. Sikap arogan bisa muncul, di mana pandangan baru dari junior diabaikan karena anggapan bahwa mereka belum memiliki pengalaman yang cukup untuk berbicara.
Pertentangan ini tidak hanya mengakibatkan gesekan antargenerasi, tetapi juga menghambat pertumbuhan dan perkembangan organisasi. Rasa frustrasi dan kesalahpahaman antara junior yang merasa diabaikan dan senior yang merasa diremehkan bisa memicu kekacauan internal yang berpotensi merusak semangat kolektif.
Namun, solusi untuk konflik ini bukanlah pertempuran antar-generasi. Komunikasi yang terbuka, saling mendengarkan, dan menerima perspektif dari semua pihak menjadi kunci. Junior dapat belajar dari pengalaman senior, sementara senior dapat membuka pikiran mereka terhadap pandangan segar junior.
Organisasi mahasiswa seharusnya menjadi laboratorium sosial di mana ide-ide berbenturan untuk menciptakan transformasi positif. Melalui kolaborasi yang harmonis antara junior yang bersemangat dan senior yang bijaksana, organisasi dapat mencapai potensinya sebagai tempat pembelajaran yang dinamis dan inklusif.
Mengakhiri dramatisasi antara junior baperan dan senior kelewat arogan adalah langkah pertama menuju organisasi yang lebih seimbang, inklusif, dan progresif. Jika kedua belah pihak dapat melihat nilai dari perspektif masing-masing, kita bisa mengharapkan mahasiswa yang terlatih dengan baik, organisasi yang kuat, dan masa depan yang lebih cerah bagi generasi penerus.
